BAB III PROPOSAL TESIS

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang memberikan perlakuan (manipulasi) terhadap variable penelitian (variable bebas), kemudian mengamati konsekuensi perlakuan tersebut terhadap obyek penelitian (variable terikat). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu (quasi eksperimen). Pada penelitian ini peneliti menggunakan sekelompok subyek penelitian dari suatu populasi tertentu, kemudian dikelompokan lagi secara random menjadi dua kelompok , yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diberlakukan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan pada kelompok kontrol diberlakukan model pembelajaran konvensional dengan jumlah jam pelajaran yang sama. Selanjutnya pada kedua kelompok kelas itu dilakukan tes hasil belajar yang sama. Hasil tes kedua kelompok di uji secara statistik untuk melihat apakah ada perbedaan yang terjadi karena adanya perlakuan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

  1. B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 14 Padang, pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Waktunya disesuaikan  dengan jadwal pelajaran yang sudah ada yang ditetapkan oleh sekolah.   

  1. C. Populasi dan sample

1.  Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 14 Padang yang terdaftar pada tahun pelajaran 2009/2010 yang terdiri dari tujuh rombongan belajar dengan jumlah siswa 240 orang yang rinciannya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.

Tabel 3 : Rekapitulasi Jumlah Siswa Kelas VIII  SMP Negeri 14 Padang Tahun   Pelajaran 2009/2010

No Kelas Jumlah Total
Laki-laki Perempuan
1

2

3

4

5

6

7

VIII – A

VIII – B

VIII – C

VIII – D

VIII – E

VIII – F

VIII – G

6

20

20

19

20

20

5

30

15

15

14

15

14

27

36

35

35

33

35

34

32

Jumlah 110 130 240

Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 14 Padang

2.  Sampel

Sampel adalah sebagian dari anggota populasi yang diteliti. Sampel berasal dari populasi yang betul-betul homogen agar sample representatif atau dapat mewakili populasi. Jadi sebelum pemilihan sampel dilakukan, dilakukan uji homogenitas dan uji kesamaan rata-rata  terhadap populasi. Pengujian homogenitas menggunakan uji Bartlett. Sedangkan uji kesamaan rata-rata dilakukan dengan menggunakan analisis variansi satu arah.

Sampel pada penelitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan melakukan undian dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Membuat gulungan kertas sebanyak tujuh buah yang diberi nomor satu sampai tujuh, kemudian dimasukkan kedalam kotak dan dikocok.
  2. Mencabut dua gulungan kertas dari tujuh gulungan kertas yang tersedia dalam kotak tersebut secara acak untuk mendapatkan kelas eksperimen dan kelas kontrol.
  3. Secara acak mencabut satu gulungan kertas dari dua gulungan kertas yang telah diperoleh pada langkah kedua untuk dijadikan kelas eksperimen dan gulungan kertas yang tidak tercabut dijadikan kelas kontrol.

Kemudian dicabut satu gulungan kertas lagi dari lima gulungan kertas yang tersisa dari langkah kedua, untuk mendapatkan kelas uji coba instrumen motivasi berprestasi.

Selanjutnya pada kelompok sampel dilakukan uji instrument motivasi berprestasi. Hasilnya dianalisis sehingga diperoleh kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestai tinggi dan kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. Penganalisisan dilakukan dengan cara

mengurutkan skor perolehan angket motivasi berprestasi dari skor tertinggi sampai skor terndah, untuk menentukan kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dan kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh  Allen dan Yen ( dalam Kumaidi, 1994 : 9) yang mengatakan bahwa responden yang berada pada 27 % tingkat atas tergolong sebagai siswa yang bermotivasi berprestasi tinggi, dan 27 % tingkat paling bawah tergolong sebagai siswa bermotivasi berprestasi rendah. Sampel pada penelitian ini cukup kecil, maka kelompok siswa yang bermotivasi berprestasi tinggi adalah 50% tingkat atas dan yang bermotivasi berprestasi rendah 50 % tingkat bawah.

  1. D. Definisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya kesalahan persepsi terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka terlebih dahulu dikemukakan definisi operasional dari istilah-istilah tersebut sebagai berikut :

  1. Pembelajaran yaitu upaya yang dilakukan guru untuk mengkondisikan dan menfasilitasi peserta didik supaya secara aktif melakukan kegiatan belajar.
  2. 2. Pembelajaran kooperatif adalah proses belajar mengajar yang dijalankan dengan cara mengelompokkan siswa peserta didik kedalam kelompok-kelompok kecil memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran dalam kelompok tersebut.
  3. 3. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu model pembelajaran dengan menelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai lima orang siswa yang heterogen. Dalam tiap kelompok terdapat siswa yang pandai, sedang dan kurang, dan campuran jenis kelamin, ras dan latar belakng social lainnya.
  4. 4. Hasil belajar adalah perobahan tingkah laku kearah yang lebih baik berupa pengetahuan dan pemahaman (kognitif), sikap dan nilai-nilai (afektif), dan keterampilan (psikomotor), sebagai akibat dari proses pengalaman belajar yang dilakukan. Pada penelitian ini hasil belajar yang dimaksud adalah pada aspek kognitif yang diperoleh dari tes yang dilakukan setelah proses pembelajaran.
  5. 5. Pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang telah biasa dilakukan guru dalam menyampaikan materi pelajaran selama ini, dimana proses belajar mengajar didominasi oleh guru ( teacher centered) dengan metode ceramah, tanya jawab, siswa bersifat pasif, sehingga peran siswa dalam memecahkan masalah pembelajaran terlihat minim sekali.
  6. Motivasi berprestasi adalah dorongan dari dalam diri seseorang untuk berbuat sesuatu sebaik mungkin agar didapat keberhasilan diri, kesuksesan dalam berkompetisi dengan hasil yang baik.
  1. E. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang berbentuk factorial design 2×2   sebagaimana dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini:

Tabel 4 : Rancangan Penelitian

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

(B)

Model Pembelajaran Konvensional

(B)

Motivasi Berprestasi tinggi
Motivasi Berprestasi Rendah

Keterangan :

:  Hasil belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

:    Hasil belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi yang diajar dengan model pembelajaran konvensional

:   Hasil belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

:   Hasil belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.

Agar pengujian hipotesis lebih tepat dan hasilnya dapat digeneralisasikan ke ppopulasi maka perlu dikontrol validitas atau kesahihan dalam pelaksanaan perlakuan. Baik kesahihan internal maupun kesahihan eksternal.

  1. 1. Kesahihan Internal (Internal Validity)

a. Pengaruh historis, dikontrol dengan mencegah agar tidak terjadi kejadian-kejadian khusus dan pelaksanaan perlakuan tidak terlalu lama jangka waktunya.

b.   Alat pengukuran, dikontrol dengan menguji cobakan terlebih dahulu instrument yang digunakan sehingga didapat instrument pengukuran yang baik.

c.   Terjadinya kontaminasi antara kelompok eksperimen dengan kelompok control, dikontrol dengan tidak menginformasikan kepada siswa tentang penelitian yang dilakukan.

d. Perbedaan kemampuan akademik antara kelompok eksperimen dengan kelompok control, dikontrol dengan pemilihan sample secara acak dari populasi yang homogen.

e.  Pematangan, dikontrol dengan tidak mengikut sertakan kedalam sample siswa yang usianya terlalu tinggi atau yang terlalu rendah.

f. Kehilangan peserta dikontrol dengan memberikan motivasi tentang pentingnya belajar untuk hari depan dan memperketat absensi.

2. Kesahihan Eksternal ( Eksternal Validity)

a.  Keshahihan populasi dikontrol dengan :

1. Pengambilan sampel yang betul-betul sesuai dengan karakteristik  populasi

2.  Mengambil kelas eksperimen dan kelas control secara acak.

b.  Kesahihan ekologi dikontrol dengan cara:

1. Tidak mengubah jadwal pelajaran dari jadwal sehari-hari yang sudah ada agar suasana pembelajaran tetap sama seperti biasa.

2. Memberikan perlakuan yang sama terhadap siswa pada semua kelompok.

3. Agar tidak terjadi acting yang terkesan dibuat-buat, kepada kelas eksperimen tadak diberitahukan bahwa mereka sedang dijadikan subyek penelitian.

4. Pelaksana eksperimen diarahkan dan berlatih terlebih dahulu tentang pelaksanaan perlakuan.

5. Tidak memberi beban atau harapan khusus pada guru pelaksana perlakuan.

  1. F. Prosedur Penelitian

Dalam pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah / fase yang harus dilakukan. Ke enam langkah / fase itu adalah sebagai berikut berikut

Tabel 5 : Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase ke

Indikator

Aktivitas Guru

1 Memberi motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan appersepsi dan motivasi terhadap siswa
2 Menyajikan informasi berbagai hal tentang pelaksanaan pembelajaran Guru menyampaikam materi kepada siswa dan memberikan petunjuk dan arahan seperlunya melalui demonstrasi atau menggunakan bahan bacaan.
3 Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok- kelompok  belajar Guru menjelaskan pada siswa cara membentuk kelompok belajar, kemudian membagi siswa atas beberapa kelompok kecil.
4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah pembelajaran. Guru membimbing kelompok yang mengalami kesulitan dalam belajar.
5 Evaluasi Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya dan guru mengevaluasi hasil kerja siswa
6 Memberikan penghargaan Guru memberikan penghargaan kepada anggota-anggota kelompok dan penghargaan kepada kelompok.

Sumber : Depdiknas 2004

Berdasarkan rancangan penelitian diatas, prosedur penelitian dilakukan sebagai berikut :

  1. Tahap Persiapan.

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :

a)      Menyiapkan perangkat pembelajaran yang meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku siswa, lembar kegiatan siswa (LKS) beserta lembar jawaban nya.

b)      Membentuk kelompok kooperatif, tiap kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang heterogen.

c)      Menentukan skor awal yang didapat dari hasil ulangan sebelumnya. Skor awal dapat berubah setelah setiap kali diadakan kuis. Misalnya setelah dilakukan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD di adakan tes, maka hasil itu dijadikan skor awal, akan berobah lagi jika telah diperoleh hasil tes berikutnya.

d)      Pengaturan tempat duduk sedemikian rupa untuk menunjang keberhasilan pembelajaran, menghindari terjadinya kekacauan yang akan menyebabkan  gagalnya pembelajaran kooperatif.

e)      Kerja kelompok , sebelum pembelajaran dimulai dilakukan latihan kerja kelompok untuk mengenalkan cara berkooperatif dan mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok.

  1. Tahap Pelaksanaan Perlakuan.

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :

1)      Pada Kelas Eksperimen.

a)      Pendahuluan.

  • Memberikan appersepsi dan motivasi dan menggali pengetahuan pra syarat dengan cara tanya jawab dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
  • Membagikan LKS

b)      Kegiatan Inti

  • Menyajikan / menyampaikan informasi. Guru menyajikan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan metode tanya jawab, diskusi dan ceramah.
  • Kegiatan belajar kelompok dengan menggunakan LKS dan lembaran kunci jawaban tugas. Khusus lembaran kunci jawaban tugas diserahkan setelah kegiatan kelompok selesai, untuk mengecek kebenaran jawaban yang dibuat oleh siswa. Kemudian siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan mengerjakan tugas – tugas yang diberikan. Sedangkan guru selalu siap untuk memberikan bimbingan, arahan dan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan. Guru harus menciptakan keadaan agar semua siswa dikelompoknya mempelajari materi, tidak seorang pun berhenti belajar sebelum semua anggota menguasai materi, kelompok yang mengalami kesulitan agar meminta bantuan guru dan setiap anggota kelompok harus berbicara sopan, saling mengormati dan saling menghargai.
  • Pemeriksaan hasil kegiatan kelompok dilakukan dengan cara mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas oleh masing- masing wakil kelompok. Dari presentasi yang dilakukan dapat dikoreksi hasil kerja kelompok benar atau salah.

c)      Kegiatan Penutup.

  • Pemberian tes secara individual.
  • Pemeriksaan hasil tes, dengan cara membuat daftar skor peningkatan setiap individu yang kemudian dimasukan menjadi skor kelompok. Peningkatan rata- rata skor setiap individu akan mejadi sumbangan bagi kemajuan kelompok.
  • Pemberian penghargaan kelompok, penghargaan kelompok didasarkan pada skor rata- rata kelompok dengan kualifikasi super, hebat dan baik.

2)      Pada Kelas Kontrol.

a)      Pendahuluan

  • Memberikan appersepsi dan motivasi
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran

b)      Kegiatan Inti

  • Guru menyampaikan materi pelajaran dengan tanya jawab, ceramah, dan demonstrasi
  • Kemudian memberikan contoh-contoh soal dan pemecahannya, siswa mendengarkan dan mencatat dalam buku catatan
  • Guru menugaskan siswa mengerjakan soal-soal latihan yang diambil dari buku pegangan siswa dan soal buatan guru sendiri.
  • Guru bersama siswa membahas soal latihan yang tidak dapat dipecahkan oleh siswa.

c)      Kegiatan Penutup

  • Dengan metode tanya jawab guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman pelajaran
  • Siswa diberi PR

Selanjutnya pada akhir perlakuan pada kedua kelompok sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas control diadakan tes hasil belajar. Tes yang digunakan adalah tes berbentuk pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban. Hasilnya dianalisis untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok sampel tersebut.

  1. G. Pengembangan Instrumen

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua macam instrument untuk mengumpulkan data yaitu angket untuk motivasi berprestasi dan tes tertulis berbentuk pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban untuk mengukur hasil belajar.

  1. Angket Motivasi Berprestasi

Angket motivasi berprestasi yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan skala Likert. Setiap pernyataan  menyediakan lima alternative jawaban. Yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (RR), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Masing-masing alternatif jawaban diberi skor seperti tampak pada tabel 6 berikut ini :

Tabel 6 :  Skor pernyataan angket motivasi berprestasi

Pilihan Jawaban Skor Untuk Pernyataan
Positif Negatif
Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Ragu-Ragu (RR)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

5

4

3

2

1

1

2

3

4

5

Sebelum merumuskan butir-butir pernyataan pada angket motivasi berprestasi ini terlebih dahulu disusun kisi-kisi. Berdasarkan kisi-kisi itulah dilahirkan butir-butir pernyataan. Menurut Arikunto ( dalam Lufri, 2007 :114) langkah-langkah yang ditempuh dalam menyusun instrument adalah :

  1. Mengidentifikasi variable yang terdapat dalam rumusan judul penelitian
  2. Menjabarkan variable menjadi subvariabel
  3. Membuat indicator setiap subvariabel
  4. Menurunkan descriptor untuk setiap indicator.
  5. Merumuskan setiap descriptor menjadi butir-butir instrument.
  6. Melengkapi instrument dengan pengantar dan pedoman pengisian instrument.

Kemudian agar diperoleh instrument angket motivasi berprestasi yang baik dan bermutu, terlebih dahulu diadakan ujicoba. Ujicoba dilakukan terhadap siswa kelas VIII yang tidak termasuk kedalam sample yang telah dipilih secara acak bersamaan dengan pemilihan sample. Hasil ujicoba dianalisis untuk menentukan validitas dan reliabilitas instrument.

1) Validitas

Validitas butir dihitung dengan menggunakan korelasi Product Moment dengan cara menghitung koefisien korelasi antara skor masing-masing butir soal dengan skor total dengan rumus :

Keterangan :

r= Angka indeks korelasi product Moment

n    = Jumlah sample

=  Jumlah hasil perkalian antara skor butir x dengan skor total y

=  Jumlah skor butir x

=  Jumlah skor total y

Kemudian nilai  yang diperoleh disubstitusikan kedalam rumus uji-t dengan rumus:

Keterangan :

= Nilai t untuk butir ke-i

=  Nilai  untuk butir ke-i

n = Jumlah samapel

Sedangkan validitas isi instrument motivasi berprestasi penentuannya dikaitkan dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Jika butir pernyataan yang digunakan dapat mewakili semua indicator yang telah dirumuskan, berarti instrument tersebut telah memenuhi validitas isi.

2) Reliabilitas

Reliabilitas adalah konsistensi dan ketetapan hasil suatu instrument jika digunakan berulang-ulang pada subyek yang sama dalam waktu yang berbeda. A. Muri Yusuf (2005:83) mengatakan bahwa suatu alat ukur dikatakan reliabel apabila alat ukur itu dicobakan kepada subyek yang sama secara berulan-ulang, maka hasilnya tetap sama, konsisten, stabil atau relatif sama. Reliabilitas alat ukur motivasi berprestasi  yang digunakan pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus alpha sebagaimana dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2005:105) yakni :

dengan

Keterangan :

=  reliabilitas yang dicari

n    =  Jumlah butir pertanyaan

=  jumlah variansi skor tiap tiap item

=  Variansi total

=  jumlah kuadrat skor tiap item

=  Jumlah skor tiap item

N =  Jumlah responden

Nilai  yang diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan rumus diatas dibandingkan dengan r tabel product moment. Jika  >   berarti instrument reliable dan dapat dipakai pada penelitian ini. Sebaliknya jika  < berarti instrument tidak reliable.

  1. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar adalah instrument untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran. Hasil belajar yang dimaksud pada penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 14 Padang yang terpilih sebagai sample setelah selesai mengikuti model pembelajaran kooperatif learning tipe STAD pada kelas eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

Sebelum instrument tes hasil belajar digunakan terlebih dahulu diuji cobakan pada kelas lain yang dipilih sebagai responden. Penulis merancang ujicoba pada salah satu kelas dari kelas IX yang telah memahami materi, karena telah mempelajarinya waktu di kelas VIII tahun sebelumnya. Dari uji coba ditentukan daya pembeda, indeks kesukaran, validitas dan reliabilitasnya. Sehingga didapat butir-butir soal yang baik.

  1. a. Validitas

Validitas yang diukur adalah validitas isi ( Content Validity ) yaitu melihat apakah butir-butir tes yang dipakai dapat mewakili isi kurikulum yang diajarkan. Suharsimi Arikunto (2005:67) mengatakan bahwa sebuah tes dikatakan memiliki validitas bila dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.

Agar tes yang digunakan pada penelitian ini mempunyai validitas yang baik, pembuatan soal harus berpedoman pada (a) materinya sesuai dengan bahan pelajaran yang telah diajarkan (b) Materi sejajar dan mewakili kurikulum yang diberikan.

  1. b. Reliabilitas

Reliabilitas tes ditentukan dengan menggunakan rumus alpha yaitu

dengan

Keterangan :

=  reliabilitas yang dicari

n    =  Jumlah butir pertanyaan

=  jumlah variansi skor tiap tiap item

=  Variansi total

=  jumlah kuadrat skor tiap item

=  Jumlah skor tiap item

N =  Jumlah responden

Nilai    yang diperoleh dikonsultasikan dengan criteria koefisien korelasi sebagaimana dikemukakan dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2005:75) sebagai berikut :

0,80      <         ≤       1,00                     : sangat tinggi

0,60      <         ≤       0,80                     : tinggi

0,40      <         ≤       0,60                     : cukup

0,20      <         ≤       0,40                     : rendah

0,00      <         ≤       0,20                     : sangat rendah

Selanjutnya nilai  dikoreksi dengan harga kritik r  Product Moment. Bila  >     dapat disimpulkan bahwa tes tersebut memenuhi reliabilitas yang signifikan.

  1. c. Indeks Kesukaran

Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan mudah dan sukarnya suatu soal. Soal yang terlalu mudah tidak mampu mendorong siswa untuk belajar lebih giat dan soal yang terlalu sukar dapat membuat siswa putus asa. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.

Indeks kesukaran ditentukan dengan rumus yang dikemukakan oleh Suharsimi arikunto (2005:208) sebagai berikut :

Dimana :

P = Indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.

= Jumlah siswa peserta tes

Nilai P yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat dikategorikan sukar, sedang atau mudah dengan criteria :

0,00    ≤       P      <       0,30                     : Soal sukar

0,30    ≤       P      <       0,70                     : sedang

0,70    ≤       P      <       1,00                     : mudah

  1. d. Daya Pembeda

Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa yang berkemampuan rendah. Untuk menentukannya hasil tes diurutkan dari skor tertinggi diatas sampai skor terendah dibawah. Karena peserta hanya satu kelas yang kurang dari 100 orang, maka seluruh siswa dikelompokkan  dua kelompok yaitu 50 % sebagai kelompok atas dan 50% sebagai kelompok bawah. Selanjutnya dihitung daya pembeda dengan menggunakan rumus :

D =

Dimana :

D = Daya pembeda Soal

= Banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar

=  Banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar

= Banyaknya siswa kelompok atas

=  Banyaknya siswa kelompok bawah.

Dengan klasifikasi nilai D sebagai berikut :

0,00    -     0,20        :  Jelek

0,20    -     0,40        :  cukup

0,40    -     0,70        :  baik

0,70    -     1,00        :  Baik sekali

Untuk mengetahui soal-soal mana yang diterima dan yang tidak diterima yang akan dipakai untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa pada subyek penelitian digunakan criteria dari Depdiknas (2001 : 28) sebagai berikut :

Daya Pembeda Kriteria
0,40    -     1,00

0,30    -     0,39

0,20    -     0,29

0,19    -     0,00

Diterima

Diterima / diperbaiki

Diperbiki

Dibuang

  1. H. Teknik Analisis Data
    1. 1. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data betul-betul berasal dari sample yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas menggunakan uji lilliefors menurut yang dikemukakan oleh Sudjana ( 1996 : 466) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Skor hasil belajar siswa   dirubah menjadi skor baku
  2. Menghitung peluang dengan menggunakan rumus F(z) = P(Z  ≤  Z)
  3. Menghitung proporsi skor baku yang kecil atau sama dengan  dengan rumus
  4. Hitung  dan
  5. Nilai maksimum dari   disebut
  6. Nilai  dibandingkan dengan nilai kritis L pada tabel pada taraf nyata yang ditentukan. Jika   maka  diterima yang berarti sample berdistribusi normal.
  7. 2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dimaksudkan untuk membuktikan bahwa kedua kelompok sample mempunyai variansi yang sama atau homogen. Jika kelompok yang satu mempunyai variansi  dan kelompok yang lain mempunyai variansi  terlebih dahulu dirumuskan hipotesis sebagai berikut : :   =

:

Pengujian menggunakan rumus yang dikemukakan Sudjana ( 1996 : 249 ) yakni :

dimana :

= Variansi Besar

= Variansi Kecil

Jika  maka  diterima yang berarti tidak ada perbedaan variansi antara kedua kelompok sample. Jika tidak demikian   ditolak dan  diterima. Berarti terdapat perbedaan variansi yang signifikan diantara kedua kelompok sample.

  1. 3. Uji Hipotesis

Hipotesis yang akan diuji terlebih dahulu dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik yaitu :

  1. Hipotesis pertama

Ho :     =

H :     >

  1. Hipotesis kedua

Ho :    =

H :   >

  1. Hipotesis ketiga

Ho :    =

H :   >

  1. Hipotesis keempat
  2. Ho  :

H  :

Hipotesis pertama, kedua dan ketiga diuji dengan menggunakan statistik uji-t dengan rumus sebagaimana yang dinyatakan oleh Sudjana ( 1996:239) yakni :

dengan

Dengan kriteria pengujian adalah terima Ho jika  –   dengan dk =   dan untuk nilai-nilai t yang lain Ho ditolak. Sedangkan hipotesis ke empat diuji dengan anova dua arah sebagaimana disampaikan oleh Aleks Maryunis (2007 : 322).

About these ads

Tentang nazwandi

Perkenalkan nama saya Nazwandi, saya seorang pengawas di dinas pendidikan kota Padang, selain itu aktivitas saya ada seorang mahasiswa program pascasarjana Magister matematika UNP. Blog ini adalah tempat "sharing" dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran matematika
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s